Kredit Foto: Uswah Hasanah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) sebanyak 24 kali sepanjang 2025, ditopang likuiditas pasar yang meningkat dan peran investor ritel domestik, meski penguatan tersebut tidak sepenuhnya diikuti saham-saham unggulan.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan, frekuensi pencapaian ATH menunjukkan penguatan pasar saham yang berlangsung konsisten sepanjang tahun lalu. “Sepanjang 2025, IHSG membukukan all time high sebanyak 24 kali,” ujar Inarno, dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK Desember 2025, Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: Konflik AS–Venezuela Gak Ngaruh! IHSG Hari Ini Kembali Cetak Rekor Tertinggi
Pada penutupan akhir 2025, IHSG berada di level 8.646,94 atau menguat 1,62% secara bulanan dan 22,13% secara tahunan. OJK mencatat level tertinggi IHSG terjadi pada 8 Desember 2025 di posisi 8.710,70, bersamaan dengan kapitalisasi pasar yang mencapai Rp16.000 triliun. “Adapun level tertinggi IHSG 2025 tercatat di 8.710,70 pada 8 Desember 2025 dengan nilai kapitalisasi pasar tertinggi Rp16.000 triliun di tanggal yang sama,” kata Inarno.
Meski IHSG mencatatkan penguatan signifikan, pergerakan indeks saham unggulan relatif lebih terbatas. Sepanjang 2025, indeks LQ45 hanya tumbuh 2,41%, sementara IDX80 naik 10,07%. Perbedaan kinerja tersebut mencerminkan penguatan pasar yang lebih merata, dengan saham di luar kelompok unggulan berkontribusi besar terhadap kenaikan IHSG.
Baca Juga: Pasar Modal Himpun Dana Rp274 Triliun Sepanjang 2025
OJK menilai kondisi ini sejalan dengan meningkatnya partisipasi investor dan aktivitas perdagangan pada saham berkapitalisasi menengah. Penguatan pasar juga didukung stabilitas ekonomi domestik serta sentimen global yang relatif kondusif terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi likuiditas, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada Desember 2025 mencapai Rp27,19 triliun, menjadi level tertinggi sepanjang tahun. Inarno menyampaikan nilai transaksi harian konsisten berada di atas Rp20 triliun sejak 20 Agustus 2025. Secara kumulatif, RNTH sepanjang 2025 tercatat Rp18,07 triliun, meningkat dibandingkan Rp12,85 triliun pada 2024.
Peningkatan likuiditas tersebut sejalan dengan menguatnya peran investor ritel domestik. OJK mencatat porsi transaksi investor ritel meningkat menjadi 50% pada semester II 2025, dari sekitar 38% pada periode sebelumnya, sehingga menopang dinamika perdagangan saham.
Sementara itu, arus dana investor asing menunjukkan pergerakan fluktuatif. Secara bulanan tercatat beli bersih sebesar Rp12,24 triliun, namun secara akumulatif sepanjang 2025 investor asing masih mencatatkan jual bersih. “Namun akumulasi di 2025 investor asing masih net sell, Rp17,74 triliun,” ujar Inarno.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri