Kredit Foto: KESDM
Emiten energi milik Grup MNC, PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), melaporkan realisasi produksi batubara sebesar 3,38 juta ton sepanjang tahun 2025. Capaian tersebut diraih saat industri emas hitam dalam negeri tengah menghadapi tantangan berlapis, mulai dari pengawasan ketat Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) oleh pemerintah, isu keberlanjutan cadangan, hingga dinamika cuaca yang memengaruhi jalur logistik.
Presiden Direktur IATA, Suryo Eko Hadianto, menjelaskan bahwa perseroan sedari awal mematok target yang cukup optimis. Namun, dalam pelaksanaannya, IATA memilih pendekatan yang lebih terukur mengikuti ritme kebijakan pemerintah.
"Tahun 2025 secara RKAB, rencana coal getting kami tetapkan sebesar 4,38 juta ton. Realisasinya mencapai 3,559 juta ton atau sekitar 81% dari target," ujar Suryo dalam Press Conference di Jakarta, Jumat (9/1/2025).
Baca Juga: IATA Teken Kerja Sama Jasa Pertambangan dengan Grup Astra Senilai Rp5 Triliun
Sebagai informasi, coal getting adalah istilah teknis dalam dunia pertambangan untuk proses penggalian atau pengambilan batubara dari lapisan tanah setelah lapisan penutupnya disingkirkan. Sementara itu, untuk batubara siap jual, IATA mencatat realisasi sebesar 3,38 juta ton dari rencana awal 4,2 juta ton.
"Dari sisi rencana produksi tahun 2025, secara RKAB itu 4,2 (juta ton). Realisasi kami di 3,379 atau sekitar 80%," tambah Suryo.
Kinerja produksi IATA pada 2025 ditopang oleh tiga entitas anak usaha yang beroperasi di Sumatera Selatan, dengan tingkat pencapaian yang bervariasi. PT Putra Muba Coal (PMC) menjadi kontributor utama produksi grup. Entitas ini mencatatkan realisasi coal getting sebesar 2,46 juta ton dari target RKAB 2,47 juta ton, atau mencapai 100% dari rencana yang ditetapkan.
Baca Juga: Gandeng Grup Astra, MNC Energy (IATA) Mulai Operasi Tambang Batu Bara di Sumsel
Sementara itu, PT Arthaco Pertiwi Energi (APE) membukukan produksi sebesar 466.933 ton dari target RKAB 738.074 ton, dengan tingkat pencapaian sekitar 63%. Perseroan mencatat kinerja APE tetap dijalankan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi cadangan dan efisiensi operasional.
Adapun PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE) mencatatkan kontribusi produksi sebesar 628.242 ton dari target RKAB 1,17 juta ton. Meski tingkat pencapaiannya baru sekitar 53%, IBPE dinilai berperan penting dalam menjaga kelancaran alur logistik dan distribusi batubara perseroan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement