- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Siap Jadi Raja Aluminium, Cadangan Bauksit Indonesia Terbesar ke-6 di Dunia
Kredit Foto: Ist
Indonesia kini tengah memacu posisi strategisnya dalam peta hilirisasi bauksit dan aluminium global. Berbekal sumber daya bauksit yang mencapai 7,78 miliar ton dengan cadangan terbukti sekitar 2,68 miliar ton, Indonesia kokoh di peringkat keenam sebagai pemilik cadangan bauksit terbesar di dunia.
Modal geologi yang masif ini menjadi pijakan utama bagi pengembangan industri aluminium nasional yang selama ini masih terjebak pada ketergantungan impor.
Data US Geological Survey (USGS) mencatat cadangan bauksit dunia berada di kisaran 30 miliar ton dengan produksi global sekitar 400 juta ton per tahun. Selama ini, pasar bauksit dan aluminium memang didominasi oleh Australia, Guinea, dan China.
Namun, Indonesia dinilai memiliki keunggulan kompetitif karena cadangan besar tersebut kini didukung oleh kebijakan hilirisasi yang konsisten melalui pelarangan ekspor bijih mentah.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi bauksit nasional sempat menunjukkan tren penguatan pada periode 2020-2022, dengan angka produksi yang meningkat dari 26,27 juta ton menjadi 31,8 juta ton. Namun, pasca-pemberlakuan larangan ekspor bijih mentah sejak Juni 2023, laju produksi mulai terkoreksi guna menyesuaikan dengan kapasitas serap smelter di dalam negeri.
Baca Juga: Indonesia Masih Impor 54% Aluminium, Inalum Siap Tutup Celah Pasar
Realisasi produksi tercatat sebesar 19,8 juta ton pada 2023 dan kembali melandai ke angka 16,8 juta ton pada 2024, seiring dengan kapasitas total produksi smelter alumina eksisting yang saat ini mencapai 4,3 juta ton.
Ketua Badan Keahlian Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Rizal Kasli, menilai pengetatan ini sangat krusial agar ritme produksi dapat sejalan dengan kapasitas serap nasional. Langkah ini sekaligus memastikan cadangan domestik memberikan manfaat nyata bagi swasembada aluminium sekaligus memperkokoh fondasi industri masa depan.
"Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan bauksit yang sangat besar dan masuk peringkat keenam dunia. Ini bisa menjadi modal utama dalam mengembangkan industri berbasis aluminium ke depan untuk peningkatan nilai tambah," ujar Rizal kepada Warta Ekonomi Rabu (7/1/2025).
Saat ini, kebutuhan aluminium domestik diperkirakan mencapai 1,2 juta ton per tahun. Sayangnya, kapasitas produksi aluminium di dalam negeri masih jauh di bawah angka tersebut, sehingga sebagian besar kebutuhan nasional masih dipenuhi melalui impor. Rizal memandang kondisi ini sebagai momentum untuk mempercepat investasi pada fasilitas pemurnian lebih lanjut.
"Kapasitas produksi kita memang belum dapat memenuhi kebutuhan aluminium di dalam negeri. Karena itu, peningkatan kapasitas smelter penting agar produksi alumina bisa diproses lebih lanjut di dalam negeri. Ini langkah strategis agar Indonesia menjadi pemain utama aluminium global," katanya.
Kendati demikian, Rizal memberikan catatan peringatan berkaca pada sektor nikel. Ia mewanti-wanti agar pembangunan smelter yang masif tidak menjadi bumerang yang menyebabkan kelebihan pasokan (oversupply) sehingga harga menjadi tak terkendali di pasar global.
Secara teknis, rantai nilai industri ini memang memerlukan perhitungan presisi, di mana dari 1 ton bijih bauksit rata-rata hanya dihasilkan 0,3 ton alumina, dan dari 1 ton alumina hanya dapat diproduksi sekitar 0,5 ton aluminium.
"Investasi bauksit tidak boleh jor-joran tanpa kajian mendalam, terutama terkait rantai pasok dan keseimbangan supply-demand alumina global. Yang diharapkan adalah investasi berkualitas yang meningkatkan nilai tambah, menyerap tenaga kerja, mendorong industri manufaktur, mengurangi ketergantungan impor, dan meningkatkan pendapatan negara," tuturnya.
Baca Juga: Ancam Daya Saing, Industri Aluminium Desak Uni Eropa Hapus CBAM
Urgensi hilirisasi ini semakin nyata jika menilik laporan dari PT Inalum. Harga bauksit mentah yang diekspor hanya dihargai sebesar US$ 40 per ton, namun bila telah dimurnikan menjadi aluminium, harganya di pasar global bisa menembus angka US$ 2.900 hingga US$ 3.000 per ton. Selisih nilai yang fantastis inilah yang menjadi alasan kuat mengapa Indonesia harus berani melangkah lebih jauh dari sekadar memproduksi alumina.
"Hampir semua produk kendaraan, baik berbasis internal combustion maupun electric vehicle, menggunakan aluminium, termasuk pesawat terbang, alat rumah tangga, dan alat komunikasi. Pemerintah seharusnya serius mengembangkan industri manufaktur agar nilai tambah sebesar-besarnya dinikmati di dalam negeri dan menyerap tenaga kerja," tegas Rizal.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI), Ali Ahmudi, menilai transformasi dari bahan mentah menjadi produk antara ini akan memberikan suntikan besar bagi penerimaan negara sekaligus menciptakan efek pengganda (multiplier effect) di daerah.
"Hilirisasi ini dipastikan berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan efek pengganda lainnya. Nilai jual produk olahan bauksit bahkan bisa melonjak hingga puluhan kali lipat dibandingkan hanya menjual komoditas mentah. Transformasi ini memastikan lompatan harga yang signifikan, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi nasional secara lebih berkelanjutan," pungkas Ali kepada Warta Ekonomi, Rabu (7/1/2025).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement